- ► 2012 (3)
- ► Februari (1)
- ► Januari (2)
- ► 2011 (38)
- ► Desember (4)
- ► November (1)
- ► Agustus (9)WAKIL BUPATI KEBUMEN SHOLAT TARAWIH BERSAMA FORUM PIMPINAN DAERAH (FPD) DI PENGADILAN AGAMA KEBUMENUPZ PENGADILAN AGAMA KEBUMEN BAGIKAN ZAKAT 100 WARGA MISKINPAHAMI DAN LAKSANAKAN DENGAN BENARPARTISIFASI AKTIF PENGADILAN AGAMA KEBUMEN DALAM PERINGATAN HUT. RI. KE 66. DI PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN KEBUMENKETUA PENGADILAN AGAMA KEBUMEN INSPEKTUR UPACARA PADA HUT.RI KE 66BERTADARUS BERSAMA DISELA WAKTU ISTIRAHAT SETELAH SHOLAT DHUHURKEIMANAN SESEORANG MENGALAMI FLUKTUASIHAQIKAT TAQWA RAIHLAH 4 L(LEBAR, LUBER, LEBUR, LABUR) DI BULAN RAMADHAN
- ► Juli (3)
- ► Juni (3)
- ► May (4)
- ► April (2)
- ► Maret (5)
- ► Februari (2)
- ► Januari (5)
- ► 2010 (12)
- ► November (1)
- ► September (1)
- ► Agustus (2)
- ► Juli (1)
- ► Juni (3)
- ► April (1)
- ► Maret (2)
- ► Februari (1)
main menu
HAQIKAT TAQWA
HAQIKAT TAQWA

Dalam rangka mengisi amalan-amalan di bulan romadhon tahun ini, Ketua pengadilan AgamaKebumen telah membuat suatu anjuran yang harus diikuti oleh seluruh pegawai, mulai dari ketua, wakil ketua, seluruh pejabat baik fungsional maupun structural tanpa terkecuali juga para hakim supaya
1. Melaksanakan sholat dhuhur dan ashar berjam’ah dengan petugas mu’adzin dan imam secara bergantian;
2. Mengadakan tadarus secara berkelompok dengan system satu orang membaca dan yang lain menyimak;
3. Untuk hari Senin, rabu dan jum’at diadakan tadzkirah (kuliah dhuhur) dengan nara sumber bergantian;
Pada hari Senin, 01 Agustus 2011 yang merupakan hari pertama bulan ramadhan telah dimulai kegiatan tersebut di atas, dengan penuh kebersamaan para pegawai begitu adzan dhuhur dikumandangkan langsung berkumpul dengan menggunakan tempat sholat sementara di ruangan atas melaksanakan sholat dhuhur berjama’ah dengan petugas imam dan sekaligus nara sumber kuliah dhuhur yaitu Bapak Ketua Pengadilan Agama Kebumen (Drs. H. Tahrir) yang dalam uraian kuliahnya memberikan materi tentang “hakikat taqwa” sebagaimana yang menjadi tujuan dari ibadah puasa ramadhan.
Dalam mengawali ceramahnya, Bapak Ketua mengajak kepada seluruh keluarga besar Pengadilan agama kebumen agar apa yang sudah menjadi keputusan bersama supaya kita laklasanakan secara bersama dan penuh tanggung jawab.

Lebih lanjut beliau memaparkan, bahwa ibadah puasa yang kita kerjakan ini adalah dalam rangka membentuk sifat taqwa kepada Allah SWT. Sebagaimana al-qur’an surat al-baqoroh ayat 183, yaitu agar kita bisa menjadikan hakikat taqwa dalam kihidupan sehari-hari.
Taqwa menurut beliau dengan menukil pendapat sahabat Ali r.a. adalah
1. Takut (kepada Allah) yang diiringi rasa cinta, bukan takut karena adanya neraka (Al Khauf min al-Jalil);
2. Beramal dengan al-qur’an yang merupakan pedoman dalam kehidupan sehari-hari seorang manusia (Al-‘amal bit-tanzil), kalau kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari menurut Bapak ketua, kita sebagai pegawai maka dalam menjalankan tugasnya harus menggunakan aturan-aturan yang ada, maka kita akan selamat.
3. Menerima dengan yang sedikit, hal ini tentunya berkaitan dengan hal rizqi, sebab kalau manusia mendapatkan rizqi yang banyak, maka siapapun akan menerimanya dengan senang hati, akan tetapi bagaimana bila kita mendapatkan rizqi yang sedikit, tentunya bagi orang yang bertaqwa maka walaupun sedikit kita akan mensyukurinya (Al-ridlo bil-qolil)
4. Taqwa berarti orang yang selalu menyiapkan diri untuk “perjalanan panjang” (Al-I’dad yaumi al-rahil), artinya bahwa hidup di dunia adalah sementara maka bagi orang yang bertaqwa adalah bagaimana menyiapkan bekal untuk kehidupan sesudah alam dunia ini yaitu alam akhirat, itulah yang lebih berarti;
Beliau juga mengajak kepada jama’ah, agar di dalam melaksanakan kebaikan jangan sampai ditunda-tunda, sebab kita sebagai manusia tidak tahu kapan kita akan dipanggil oleh Allah SWT. Dengan mengisahkan suatu cerita dialog antara “Umar bin Abdul ‘Aziz” dengan putranya “Abdul Malik”.
Pada suatu hari “Umar bin Abdul ‘Aziz” barusan turun dari mimbarnya untuk menuju ke rumahnya dan masuk ke kamarnya, beliau benar-benar ingin mendapatkan sedikit istirhat, setelah kelelahan yang amat sangat, baru saja beliau mau meletakan punggungnya di tempat tidurnya, tiba-tiba datanglah putranya “Abdul Malik” yang waktu itu baru menginjak usia tujuh belas tahun, lalu sang putra berkata:
- Wahai amirul mu’minin, apa yang akan engkau lakukan sekarang?
- Ayahnya menjawab, Wahai anakku, aku ingin tidur sejenak, karena sudah ayah capai sekali;
- Apakah engkau masih ingin tidur sejenak sebelum mengembalikan hak-hak orang yang didzalimi, wahai amirul mukminin? Kata putranya lagi.
- Sang ayah menjawab, Wahai anakku, aku tadi malam begadang (tidak tidur) untuk menemani pamanmu Sulaiman. Dan nanti kalau sudah dating waktu dhuhur, aku akan sholat bersama orang-orang dan akan aku kembalikan hak-hak orang yang didzalimi itu. Insya Allah Jawab sang ayah.
- Sang putra berkata, wahai ayah, siapakah yang menjaminmu, kalau usiamu bisa sampai dhuhur lagi?;
Dengan sedikit mencuplik dialog antara Umar bin abdul aziz dengan putranya tersebut di atas agar bisa dijadikan ingatan (pelajaran) bagi kita bahwa kita sebagai manusia tidak akan tahu bahwa usia kita akan sampai besok lagi atau tidak, untuk itu Bapak ketua mengajak mari mumpung masih ada kesempatan kita gunakan kesempatan ini untuk berbuat kebaikan, dan apabila kita punya rencana kebaikan jangan sampai kita tunda-tunda.
Semoga, kita dengan puasa ini akan menjadi orang-orang yang benar-benar bertaqwa kepada allah SWT. Amiin.
Ahmad Sujai.
Terakhir Diperbaharui (Rabu, 03 Agustus 2011 01:33)

